PONDOK CABE – Memasuki tahun ajaran baru bukan cuma soal merapikan ruang kelas atau menyusun tumpukan modul ajar baru. Bagi MI Mumtaza, ada satu hal krusial yang jauh lebih penting untuk dipersiapkan: kesiapan mental para pendidiknya.
Guna menyalakan kembali api semangat dan menyelaraskan visi, MI Mumtaza sukses menggelar workshop intensif bertajuk "Ready Your Self, Ready To Teach" pada Kamis, 9 Juli 2026. Bertempat di kampus MI Mumtaza, Pondok Cabe, Pamulang, acara yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB ini berlangsung seru sekaligus penuh perenungan.
Tak main-main, sekolah menghadirkan sosok psikolog sekaligus Founder Titik Putih yang sudah akrab di layar kaca dan media sosial, Intan Erlita, M.Psi., Psikolog.
Kenali Diri Sendiri Sebelum 'Nyetir' Isi Kelas
Ada sebuah kutipan tajam yang menjadi ruh dari pelatihan ini: "Before you lead others, you must know yourself" (Sebelum memimpin orang lain, kamu harus mengenali dirimu sendiri). Menariknya, Intan Erlita membuka sesi dengan membedah peran penting Self-Awareness (kesadaran diri).
Menurutnya, kesadaran diri adalah kompas mutlak bagi seorang guru. Tanpa memahami nilai-nilai pribadi, kelebihan, hingga titik lemah (bias) di dalam diri, karakter seorang pendidik akan terasa hambar dan gampang goyah saat diterpa tekanan pekerjaan atau dinamika di sekolah.
"Murid itu tidak mengikuti rencana pembelajaran sehebat apa pun yang kita buat di atas kertas. Mereka mengikuti guru yang mereka percayai. Dan kepercayaan itu baru lahir ketika apa yang guru katakan di luar selaras dengan apa yang dia yakini di dalam hati," jelas Intan mantap, menekankan pentingnya The Power of Authenticity.
Membongkar 'Isi Kepala' Melalui 4 Tipe Dominan
Suasana workshop semakin hidup ketika para guru diajak membedah navigasi internal mereka. Intan memaparkan bahwa cara manusia memproses informasi dan berkomunikasi dipengaruhi oleh pusat dominasi otak yang terbagi menjadi empat tipe:
Lewat pemetaan ini, para guru diajak memahami cara menjembatani ego pribadi dengan kebutuhan tim maupun murid di kelas (Bridging Self to Team). Ketika seorang guru punya kecerdasan intrapersonal yang matang, mereka bakal jauh lebih tenang saat menghadapi konflik di kelas atau ketika berkolaborasi dengan manajemen sekolah.
Menjadi Cermin yang Bersih
Sebelum sesi berakhir, sebuah pesan mendalam dititipkan untuk seluruh peserta. Guru adalah cermin. Setiap kata yang diucapkan dan setiap tindakan yang ditunjukkan di depan kelas akan dipantulkan langsung oleh murid-muridnya. Tugas terbesar guru adalah memastikan "cermin" tersebut selalu bersih, agar anak-anak didik bisa melihat visi masa depan mereka dengan jernih dan optimistis.
Melalui workshop yang interaktif ini, MI Mumtaza kembali membuktikan komitmennya bukan hanya mengejar nilai akademik, tapi juga membangun ekosistem pendidikan yang sehat dimulai dari kesiapan mental para gurunya.(am)