PONDOK CABE, PAMULANG – Dalam rangka membekali para pendidik untuk menghadapi tantangan era Industri 4.0 dan membekali siswa dengan Kompetensi Abad 21, MI Mumtaza Islamic School menyelenggarakan In-House Seminar bertajuk "Integrasi Deep Learning pada Kurikulum Mumtaza".
Acara yang berlangsung secara tatap muka di lingkungan MI Mumtaza, Pondok Cabe - Pamulang ini dilaksanakan pada hari Jumat, 10 Juli 2026, mulai pukul 08.00 hingga 10.00 AM. Seminar ini menghadirkan pakar pendidikan Islam terkemuka, Dr. KH. Akhmad Sodiq, M.A., dosen dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Dr. Akhmad Sodiq menekankan pentingnya konsep "Guru Berdaya" agar para pendidik tidak gagap dalam mengawal tumbuh kembang peserta didik di tengah pesatnya disrupsi teknologi pintar. Beliau meluruskan miskonsepsi publik bahwa istilah Deep Learning yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tidaklah sama dengan istilah teknis di bidang Artificial Intelligence (AI).
"Dalam konteks pendidikan, Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran progresif yang menekankan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam pada materi yang esensial, bukan sekadar menghafal informasi luaran (surface learning)," jelas Dr. Akhmad Sodiq.
Lebih lanjut, beliau membedah 3 Elemen Utama yang mendasari proses Deep Learning untuk menciptakan pembelajaran jangka panjang (long-term memory):
Melalui Deep Learning, peta kompetensi siswa ditingkatkan dari yang sebelumnya 4C menjadi 6C (berdasarkan kerangka New Pedagogies for Deep Learning), dengan menjadikan Karakter (Character) dan Kewarganegaraan (Citizenship) sebagai fondasi moral yang kuat untuk menyokong Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration.
Integrasi ini juga menyasar pada penguatan literasi dasar secara mendalam, seperti literasi numerik yang tidak lagi berbasis hafalan rumus, literasi sains kontekstual, hingga literasi finansial, digital, serta budaya.
Guna memudahkan para guru Mumtaza dalam mengaplikasikan pendekatan ini secara praktis, seminar ini mengupas tuntas lima model pembelajaran yang berorientasi pada proses berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills / HOTS) mengacu pada piramida belajar aktif:
Di akhir sesi, Dr. Akhmad Sodiq menegaskan bahwa tidak ada model tunggal yang paling unggul. Kunci keberhasilan kurikulum ini terletak pada kecermatan guru dalam mengombinasikan kelima model tersebut berdasarkan karakteristik siswa dan tujuan materi pembelajaran.
Melalui seminar ini, Mumtaza Islamic School menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi pembelajar yang kritis, reflektif, mandiri, serta siap menjadi produser inovasi yang adaptif terhadap perubahan zaman.(am)